Kamis, 27 Desember 2007

Zero Base Princing

Anita Kenjanawati – BP Migas

Konon, ditahun 1980, dept. Purcasing di Polaroid menciptakan metoda yang disebut Zero Base Princing (ZBP) sebagai alat untuk memerangi inflasi dan kenaikan harga-harga selama masa inflasi. Bila ingin berhasil, para buyer harus bekerjasama dengan internal End Users dan supplier untuk mengurangi “all-in-cost” dari barang dan jasa yang dibeli dengan cara me-review semua komponen-komponen biaya yang terjadi.
Untuk itu, para buyers diharapkan mengerti betul 5 komponen biaya, yaitu: material, labor, factory overhead, general & admin dan supplier profit.


Dengan mengerti ke 5 komponen tersebut dan bekerjasama yang TRANSPARAN (antara Buyer dan supplier), Buyer dapat menolak adanya kenaikan biaya material, biaya tenaga kerja, yang diajukan supplier bila tanpa ada dokuen pendukung. Biaya overhead pabrik juga harus dianalisa apakah memang benar ada biaya pengembangan parik, bagaimana break even pointnya . Demikian juga untuk kenaikan biaya gen & admin yang biasanya dipengaruhi oleh jenis produknya. Bila produknya sudah “mature”, biasanya biaya-biayanya tidak begitu berfluktuasi. Yang paling menarik adalah Supplier Profit. Supplier profit juga secara transparan didiskusikan dengan pihak buyer. Profit dapat di “challenge” oleh buyer bila performance supplier kurang bagus. Pengukuran performance supplier kurang bagus. Pengukuran performance mempertimbangkan factor resiko, kualitas produk, biaya-biaya yang disebut ditas, ketepatan pengiriman dan after sale service yang diberikan.
Berdasarkan pengalaman dari yang sudah menjalankan, agar lebih sukses dalam pelaksanaan ZBP, beberapa teknik/metoda sbb harus dimengerti dam dilaksanakan oleh para buyer :
1. Memaksimumkan value di internal perusahaan:buyer harus terlibat langsung pada proses identifikasi produk yang akan dibeli (yang biasanya hanya dilakukan oleh user saja.) Buyer harus menyakinkan users untuk mau mencoba produk “alternative”. Buyer harus dapat membuktikan bahwa value dan brand preference tidak ada korelasinya.
2. Value engineering dan Value analsys
3. Keterlibatan Buyer pada perhitungan Capital Expenditure
4. Mengerti teori harga
5. Melakukan analisa harga dan analisa biaya.
6. Melaksanakan tender untuk mendapatkan harga yang kompentitif.
7. Membuat “model” dari perhitungan biaya.
8. Analisa CVP, mengetahui apakah besar kecilnya volume pembelian sangat mempengaruhi total biaya dan biaya per unit.
9. Melakukan analisa biaya langsung dan tak langsung.
10. Melakukan analisa profit.
11. Fleksibilitas kontrak perlu dipertimbangkan.
12. Klausal yang mengatur penyesuai harga juga perlu dipertimbangkan.
13. Negosasi.
14. Melakukan research, siapa pemain baru d produk tersebut.
15. Me-review procurement system, apakah ada aliran proses yag kurang efesien.
16. MENDOKUMENTASIKAN “Cost Reduction” dan “Quality Improvement, agar Purcahsing Dept. bisa mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Manajemen yang lebih tinggi.
Polaroid sudah melakukan pendekatan ini di tahun 1980, bagaimana dengan perusahaan di Indonesia ?

Sumber : Supplychain media

Tidak ada komentar: